Kegiatan bertajuk “Pendampingan dalam Pemantauan Pengendalian Vektor Penular Penyakit Demam Berdarah” ini menghadirkan tiga pakar kesehatan sebagai pengarah: Dr. Aidil Onasis, SKM., M.Kes., Evino Sugriarta, SKM., M.Kes., dan Dr. Wijayantono, SKM., M.Kes. Mereka tidak hanya berceramah di dalam kelas.
Para peserta diajak praktik langsung mengamati dan mengoleksi jentik nyamuk di titik-titik yang kerap terabaikan. Mulai dari talang air, pot tanaman, hingga tempat minum hewan peliharaan di sekitar sekolah.
3M Plus Jadi Senjata Utama, Kahoot Jadi Pemantik Antusiasme
Materi inti pelatihan adalah konsep Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Siswa diajari teknik menguras tempat penampungan air, menutup rapat penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Untuk menguji pemahaman, tim pengabdian menggunakan platform Kahoot. Metode interaktif ini terbukti meningkatkan antusiasme peserta. Nilai tes sebelum dan sesudah sesi menunjukkan peningkatan daya ingat terhadap materi yang disampaikan.
Sinergi Kampus-Puskesmas-Sekolah: Investasi Jangka Panjang Tekan DBD
Kolaborasi ini tidak berhenti pada pelatihan satu hari. Keterlibatan tenaga kesehatan dari Puskesmas Pauh memastikan edukasi berjalan efektif dan berkelanjutan. Para siswa diharapkan menjadi pelopor kesehatan mandiri di rumah masing-masing.
“Kami menjadikan siswa sebagai agen perubahan. Mereka bisa memantau lingkungan keluarga dan menyebarkan kebiasaan 3M Plus ke tetangga,” ujar salah satu anggota tim pengabdian dalam keterangannya.
Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah ini dinilai sebagai investasi penting dalam menciptakan generasi yang sadar akan kesehatan lingkungan. Dengan pola pikir yang terbentuk sejak remaja, angka kasus DBD di Kota Padang diharapkan bisa ditekan secara signifikan.