Pencarian

Ulama Kharismatik Minang Buya Gusrizal Gazahar Sebut Sumbar Tidak Baik-baik Saja: Data LGBT, Perceraian, hingga Narkoba Meningkat

Minggu, 19 Juli 2026 • 16:51:01 WIB
Ulama Kharismatik Minang Buya Gusrizal Gazahar Sebut Sumbar Tidak Baik-baik Saja: Data LGBT, Perceraian, hingga Narkoba Meningkat
Buya Dr Gusrizal Gazahar menyampaikan paparan di hadapan peserta majelis di Padang, Sumatera Barat.

PADANG — Suasana hening menyelimuti ruangan ketika Buya Dr Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa membuka paparannya dengan kalimat menghentak di hadapan para peserta majelis. Ulama kharismatik asal Ranah Minang yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat itu tidak menahan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini.

“Pada siang ini mendekat menjelang sore, kita berbicara satu persoalan yang aktual. Ini bukan masalah yang akan terjadi, tetapi adalah masalah yang sedang kita hadapi,” ujarnya di Padang, belum lama ini.

Data yang Menunjukkan Kemerosotan

Tanpa tedeng aling-aling, Buya yang akrab disapa Buya Datuak itu mengajak seluruh elemen masyarakat Minangkabau untuk mengakui kenyataan pahit. Menurutnya, data-data yang tersedia saat ini sudah cukup menjadi alarm.

“Data LGBT itu tanda tak baik-baik saja. Kemudian data perceraian rumah tangga. Sumatera Barat termasuk 10 besar urusan cerai. Kemudian kemaksiatan lain: narkoba, perjudian, sampai rampok,” paparnya tegas.

Ia menambahkan bahwa seluruh data itu jika dikumpulkan, dibaca, dan disimpulkan, menunjukkan satu fakta: Ranah Minang sedang sakit.

Adat Bergeser Jadi Seremonial Belaka

Buya mengupas tuntas akar persoalan yang membuat berbagai kemaksiatan bermunculan. Menurutnya, nilai-nilai luhur yang dulu menjadi kebanggaan dan modal sosial masyarakat Minang, kini runtuh satu per satu.

“Adat Minang itu sebenarnya esensinya adalah nilai. Tapi kini, maaf, kebanyakan awak mencaliak adat Minang kini adalah ulik-ulik. Pesta-pesta. Adat bergeser dari nilai menjadi seremonial, festival. Itu nan ado,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Ia memberi contoh bagaimana pemahaman adat telah bergeser hingga menyulitkan proses pernikahan. “Di siko laki-laki minta uang balanjo, di sinan laki-laki mintak pitih. Payah unjun-barunjun, etongnyo kadang sampai gagal pernikahan,” jelasnya.

Niniak Mamak dan Bundo Kandung Dinilai Belum Maksimal

Dengan gaya khas seorang ulama Minangkabau, Buya mengingatkan bahwa tanggung jawab menangkal kemaksiatan bukan hanya terletak pada pemerintah atau ulama. Niniak mamak sebagai pemangku adat dan bundo kandung juga memiliki peran yang harus dijalankan.

“Saya khawatir jawabannya, kalau jujur, indah pulo. Niniak mamak, bundo kandung, alim ulama—harus jujur mengaku bahwa kita belum menjalankan peran maksimal,” tuturnya.

Beliau menyoroti bagaimana para pemangku adat kini lebih sibuk dengan urusan seremonial dan gelar, sementara peran mengayomi kemenakan terabaikan. “Kalau dulu mamak badagang taba, kini mamak meminta ke kemenakan. Wibawanyo lai hilang,” sindirnya.

Benteng Terakhir Ada di Rumah Tangga

Di akhir paparannya, Buya menegaskan bahwa benteng pertama yang harus kokoh adalah rumah tangga. Sebab madrasatul ula, pendidikan pertama bagi anak-anak, ada di sana.

“Karakter anak adalah tanggung jawab ibu, bapak. Bukan tanggung jawab sekolah. Nabi mengatakan, setiap anak lahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” tegasnya.

Ia menambahkan, “Kalau bahasa adat, dari kaum awak mulai menangkal. Tidak ada menangkal kemaksiatan di Minangkabau dimulai dari hal lain. Harus dimulai dari kaum, dari rumah tangga.”

Meskipun kritiknya tajam dan datanya telanjang, Buya tetap optimis. Menurutnya, majelis-majelis ilmu seperti ini penting untuk membangkitkan kesadaran dan menyusun langkah-langkah perbaikan. “Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru anfusihim,” tutupnya mengutip ayat Al-Qur'an tentang perubahan diri sendiri.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: minangkabaunews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks