SUMATERA BARAT — Pergerakan mata uang Garuda pada sesi perdagangan hari ini berbalik arah setelah pada penutupan sebelumnya sempat bertengger di level Rp17.861 per dolar AS. Meski pelemahan relatif tipis, tekanan terhadap rupiah tetap terasa seiring dengan masih bercampurnya sinyal yang diterima pasar dari kawasan Timur Tengah.
Fokus Investor Tertuju pada Situasi Selat Hormuz
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini cenderung konsolidatif. Pelaku pasar masih menunggu kejelasan arah eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
"Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam," kata Lukman dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan, situasi di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang dicermati pelaku pasar. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan titik krusial bagi distribusi minyak mentah dunia, sehingga setiap gejolak di kawasan itu berpotensi langsung mempengaruhi sentimen risiko di pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.
Konsolidasi Rupiah Berlanjut, Sentimen Eksternal Masih Dominan
Sepanjang pekan ini, pergerakan rupiah masih akan sangat ditentukan oleh faktor eksternal. Selain konflik geopolitik, pelaku pasar juga menanti data ekonomi Amerika Serikat yang dapat menjadi sinyal bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, tidak banyak sentimen positif baru yang mampu mendorong penguatan signifikan. Para pelaku pasar cenderung memilih menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dengan kondisi ini, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan terjadi dalam rentang yang sempit. Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan berita geopolitik dan data ekonomi global yang dapat memicu pergerakan mendadak di pasar valuta asing.