PADANG — Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat, Roni Nazra, menyebutkan pertumbuhan pembiayaan itu mencerminkan kontribusi perbankan syariah yang kian signifikan terhadap aktivitas masyarakat dan dunia usaha setempat. “Perbankan syariah di Sumatera Barat terus menunjukkan kinerja yang baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (2/6/2026).
Aset dan Dana Pihak Ketiga Ikut Meningkat
Kinerja positif itu tidak hanya terlihat dari penyaluran pembiayaan. Hingga akhir Maret 2026, total aset perbankan syariah di Sumatera Barat tercatat sebesar Rp14,84 triliun, naik 13,30 persen secara tahunan.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh, meski lebih moderat. DPK mencapai Rp11,27 triliun, meningkat 3,04 persen dibandingkan Maret 2025. Angka ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah tetap terjaga.
Rasio Pembiayaan Bermasalah Masih Terkendali
Dari sisi risiko, rasio Non-Performing Financing (NPF) perbankan syariah berada di level 1,75 persen. Meskipun sedikit naik dari posisi 1,49 persen pada Maret 2025, OJK menilai angka tersebut masih dalam kategori sehat dan terkendali.
Industri Perbankan Sumbar Tumbuh Solid
Secara keseluruhan, industri perbankan di Sumatera Barat mencatat total aset Rp86,74 triliun pada triwulan I 2026, tumbuh 3,77 persen dari tahun sebelumnya. Penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp75,50 triliun atau meningkat 2,98 persen. Sementara itu, DPK tumbuh 9,24 persen menjadi Rp62,92 triliun.
Roni menambahkan, stabilitas sektor jasa keuangan ini menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan global. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,02 persen secara tahunan.
“Kami akan terus mendorong penguatan sektor jasa keuangan agar mampu mendukung pembiayaan produktif, meningkatkan inklusi keuangan, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat secara berkelanjutan,” pungkasnya.