SUMATERA BARAT — Kekalahan dramatis dari Argentina di Atlanta pada Jumat (15/7) lalu menyisakan luka yang dalam bagi skuad Mesir. Unggul 1-0 di babak kedua, tim asuhan Hossam Hassan harus rela tersingkir setelah Lionel Messi mencetak satu gol dan satu assist untuk membalikkan keadaan di 10 menit terakhir. Namun, bukan semata hasil akhir yang menjadi pemicu kemarahan EFA, melainkan sejumlah keputusan wasit yang dinilai berat sebelah.
Dua Momen Krusial yang Dipersoalkan
EFA secara spesifik menyoroti dua insiden. Pertama, gol Mostafa Zico yang dianulir setelah VAR menilai gelandang Marwan Attia menginjak kaki Lisandro Martinez di awal skema serangan. Kedua, pelanggaran terhadap Mohamed Salah di kotak penalti Argentina yang diabaikan wasit, hanya beberapa detik sebelum Argentina mencetak gol kemenangan di waktu injury time.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip BBC Sport, Presiden EFA, Hany Abou Rida, menuntut investigasi atas "kesalahan wasit yang serius dan standar ganda" yang dilakukan oleh tim pimpinan Francois Letexier. Tuduhan paling keras dilayangkan EFA, yang menyebut adanya "kejahatan diskriminasi terhadap tim nasional Mesir."
Pelatih dan Kapten: "Turnamen Ini Dikendalikan"
Kekecewaan juga disuarakan oleh manajer Mesir, Hossam Hassan. "Mungkin mereka ingin menjaga juara dunia tetap bertahan. Mungkin mereka ingin Messi terus berlaga," ujarnya sinis seusai pertandingan. Ia menegaskan timnya telah diperlakukan tidak adil dan menderita ketidakadilan yang nyata.
Senada dengan pelatihnya, kapten tim Mostafa Zico tak ragu melontarkan tuduhan serius. "Wasit benar-benar tidak adil. Ketidakadilan itu jelas sejak awal pertandingan. Jelas turnamen ini sudah diatur," katanya.
Analisis: Nasib Protes di Tangan FIFA
Sejarah mencatat, protes terhadap keputusan wasit di Piala Dunia jarang membuahkan hasil. Pada Piala Dunia 2022, Prancis juga menggugat kekalahan 1-0 dari Tunisia karena gol injury time mereka dianulir. FIFA hanya mengeluarkan pernyataan singkat yang menolak protes tersebut tanpa penjelasan detail.
Masalah utama bagi federasi mana pun yang mengajukan protes adalah subjektivitas keputusan wasit. Kesalahan manusiawi dianggap sebagai bagian dari pertandingan, bukan bukti adanya konspirasi. Meski demikian, bukan tidak mungkin komite wasit FIFA secara diam-diam memulangkan Letexier dan timnya lebih awal dari Amerika Serikat.
Hingga berita ini ditulis, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan EFA. Langkah selanjutnya bagi Mesir adalah menunggu, sementara Argentina bersiap menghadapi Swiss di perempat final pada akhir pekan ini.