Pencarian

Epic vs Apple Berlanjut di Brasil, Tuduh Pembatasan Baru Hambat Aplikasi Pihak Ketiga

Sabtu, 22 Agustus 2026 • 08:22:01 WIB
Epic vs Apple Berlanjut di Brasil, Tuduh Pembatasan Baru Hambat Aplikasi Pihak Ketiga
Epic Games resmi mengajukan petisi kepada CADE terkait dugaan hambatan distribusi aplikasi pihak ketiga di Brasil.

SUMATERA BARAT — Perseteruan antara Epic Games dan Apple kembali memanas, kali ini di Brasil. Setelah sempat mereda lewat kesepakatan antimonopoli, keduanya kembali berselisih soal implementasi aturan toko aplikasi alternatif di negara tersebut.

O Globo melaporkan, Epic resmi mengajukan petisi kepada CADE, badan pengawas persaingan usaha Brasil, pada pekan ini. Isi petisi menuding Apple menciptakan berbagai hambatan yang membuat distribusi aplikasi di luar App Store sulit dijalankan secara praktis.

Akar Masalah Kesepakatan App Store di Brasil

Dua bulan lalu, Apple sebenarnya sudah melonggarkan aturan untuk developer di Brasil. Perubahan ini merupakan hasil penyelesaian investigasi yang berlangsung bertahun-tahun, dipicu oleh keluhan dari raksasa e-commerce Amerika Latin, MercadoLibre.

Dengan aturan baru itu, developer Brasil kini diizinkan mendistribusikan aplikasi iOS lewat marketplace alternatif dan memakai sistem pembayaran di luar In-App Purchase (IAP) milik Apple. Sebagai kompensasi, Apple memperkenalkan struktur komisi baru, termasuk biaya Teknologi Inti sebesar 5% untuk barang dan jasa digital yang dijual lewat aplikasi di luar App Store.

Empat Keberatan Utama Epic ke CADE

Epic tidak tinggal diam. Lewat petisinya, setidaknya ada empat poin utama yang menjadi senjata mereka untuk menyerang implementasi kebijakan Apple di Brasil.

Pertama, cakupan kebijakan. Epic menilai ketentuan baru itu hanya berlaku untuk aplikasi iOS, sementara kesepakatan dengan CADE secara jelas juga mencakup sistem operasi iPadOS. Ini menjadi celah yang menurut Epic sengaja diabaikan Apple.

Kedua, proses instalasi yang rumit. Epic membandingkan proses pemasangan aplikasi dari toko alternatif di Brasil yang membutuhkan sembilan langkah. Jauh lebih panjang dibandingkan implementasi serupa di Eropa yang hanya enam langkah.

Data yang disodorkan Epic cukup menarik. Saat Apple pertama kali menerapkan aturan di Eropa, prosesnya butuh 15 langkah. Setelah dipaksa memangkas menjadi enam langkah, angka pengunduhan yang gagal turun drastis dari 65% menjadi 25%. Angka ini jadi bukti bahwa kerumitan teknis berdampak langsung pada perilaku pengguna.

Ketiga, praktik "scare sheets". Epic menuding Apple menampilkan peringatan berlebihan yang membuat pengguna ragu untuk menginstal aplikasi dari luar App Store. Taktik ini dinilai sebagai cara halus untuk mempertahankan dominasi toko aplikasinya.

Keempat, persyaratan pelaporan. Menurut Epic, kewajiban pelaporan yang diminta Apple jauh melampaui kebutuhan untuk sekadar menghitung biaya. Hal ini dinilai membuka peluang bagi Apple untuk memantau model bisnis para pesaingnya.

Respons Apple dan Nasib Ekosistem Aplikasi Brasil

Hingga berita ini ditulis, Apple belum memberikan komentar publik. CADE sendiri telah menetapkan tenggat waktu Senin pekan ini bagi Apple untuk menyerahkan tanggapan resmi atas petisi Epic.

Keputusan CADE nantinya akan menentukan arah kebijakan distribusi aplikasi di Brasil, salah satu pasar smartphone terbesar di dunia. Jika gugatan Epic dikabulkan, ini bisa menjadi preseden bagi negara lain yang tengah mengawasi praktik Apple, termasuk Indonesia yang juga memiliki ekosistem pengembang aplikasi yang besar.

Bagi pengguna iPhone di Brasil, hasil sengketa ini akan menentukan seberapa mudah mereka mengakses aplikasi dari sumber di luar App Store. Sementara bagi developer, ini soal fleksibilitas dan biaya operasional jangka panjang.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: 9to5mac.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks