SUMATERA BARAT — Iveda resmi memperkenalkan pesawat nirawak (drone) rotary-wing terbarunya yang diberi nama GX10-F100. Produk ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan daya tahan baterai yang selama ini menjadi kelemahan utama drone quadcopter komersial, terutama untuk misi panjang di area terpencil.
Dengan mengusung propulsi berbahan bakar bensin, drone ini menyasar kebutuhan logistik militer, pengintaian, hingga dukungan komunikasi di lapangan. Keunggulan utamanya ada pada durasi terbang yang diklaim mencapai 150 menit, sebuah lompatan signifikan untuk kelas kendaraan udara nirawak.
Spesifikasi dan Kemampuan GX10-F100
Secara dimensi, GX10-F100 memiliki panjang 72 inci dengan rentang rotor yang sama, membuatnya seukuran helikopter mini. Berikut rincian spesifikasi utamanya:
- Propulsi: Mesin berbahan bakar bensin dengan tangki berkapasitas 1,43 galon
- Durasi terbang: Lebih dari 150 menit (klaim pabrikan)
- Kapasitas muatan: Hingga 19 pon atau sekitar 9 kilogram
- Kecepatan maksimum: 68 mph (sekitar 109 km/jam)
- Jangkauan operasional: 19 mil (sekitar 30 kilometer)
- Material bodi: Serat karbon semi-simetris untuk ketahanan angin kencang
Kerangka serat karbon semi-simetris diklaim memberikan stabilitas lebih baik saat beroperasi di kawasan pesisir yang berangin kencang atau medan terpencil. Sistem otonomnya mendukung siaran video langsung, panduan rute, dan pelacakan objek tanpa perlu kendali manual terus-menerus.
Fitur Otonom untuk Misi Kritis
Perangkat lunak kecerdasan buatan yang tertanam memungkinkan operator memprogram misi secara mandiri. Drone dapat terbang mengikuti rute yang ditentukan, melacak objek bergerak, dan mengirimkan feed video secara real-time ke pusat komando.
Fitur ini menjadi nilai jual utama untuk skenario patroli perbatasan, inspeksi infrastruktur jarak jauh, pencarian korban, hingga pemantauan area bencana. Operator tidak perlu terus-menerus memegang kontrol, sehingga fokus bisa dialihkan ke analisis data intelijen.
Siapa yang Bisa Membeli dan Bagaimana Prosedurnya?
Iveda membatasi penjualan GX10-F100 hanya untuk institusi tertentu. Agen tanggap darurat yang disetujui, perusahaan infrastruktur, dan pilot militer dapat membeli unit ini secara langsung untuk kebutuhan manajemen bencana dan inspeksi.
Untuk pembelian oleh pemerintah, Iveda menggandeng GlobalMed di bawah pengaturan logistik federal. Proses ini tunduk pada regulasi akuisisi pertahanan Amerika Serikat, yang berarti tidak semua negara bisa membelinya—beberapa pemerintah masuk daftar hitam keamanan nasional dan tidak memenuhi syarat.
Catatan Kritis dan Tantangan Operasional
Meski angka 150 menit terdengar impresif, Iveda belum merilis data uji independen yang membuktikan durasi tersebut tetap tercapai saat drone membawa muatan maksimum 9 kilogram. Performa pesawat nirawak umumnya menurun drastis ketika membawa beban berat, melawan angin kencang, atau menjalankan misi otonom berulang.
Penggunaan mesin bensin juga menghadirkan konsekuensi logistik yang tidak ada pada sistem baterai murni. Operator wajib menyediakan pasokan bahan bakar, perawatan mesin berkala, dan prosedur keselamatan ekstra untuk penanganan cairan mudah terbakar di lapangan.
Iveda juga mengungkap rencana jangka panjang untuk mengonversi helikopter ukuran penuh yang sudah pensiun menjadi pesawat otonom. Proyek ini berada di kelas yang jauh lebih besar dari GX10-F100 dan masih membutuhkan banyak pengembangan.
GX10-F100 menjadi pintu masuk Iveda ke pasar drone militer dan pemerintahan yang mengutamakan durasi terbang. Namun, keberhasilan produk ini di medan nyata tetap bergantung pada reliabilitas mesin, performa muatan aktual, dan kemampuan sistem otonomnya saat menghadapi kondisi operasional yang tidak terduga.