SUMATERA BARAT — Di tengah agresivitas ekspansi, BRI justru berhasil menekan angka kredit macet. NPL turun dari 3 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 2,9 persen di kuartal II 2026. Perbaikan juga terjadi pada biaya pencadangan atau cost of credit yang turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen—membaik sekitar 30 basis poin.
Perbaikan kualitas ini menjadi fondasi penting, sebab total kredit yang disalurkan naik signifikan dari Rp1.417 triliun pada kuartal II 2025. Artinya, setiap tambahan kredit baru tetap diseleksi dengan hati-hati sehingga tidak memicu lonjakan risiko di kemudian hari.
Aset dan Dana Pihak Ketiga Ikut Menguat
Pertumbuhan kredit otomatis mendongkrak total aset BRI menjadi Rp2.352 triliun hingga akhir Juni 2026, atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan. Dari sisi pendanaan, perseroan menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun, naik 6,7 persen dibanding posisi Rp1.482 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Struktur pendanaan BRI juga mencatat perbaikan. Rasio dana murah (CASA) meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen. Angka ini menunjukkan mayoritas dana yang dihimpun berasal dari tabungan dan giro, bukan deposito berbunga tinggi, sehingga tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) bisa ditekan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut capaian ini merupakan buah dari agenda transformasi yang mulai menunjukkan hasil nyata.
"Berbagai agenda transformasi BRI bukan hanya rencana strategis ke depan, melainkan juga sudah kami eksekusi dan menunjukkan hasil yang positif terhadap kinerja BRI. Bisnis tumbuh semakin kuat, intermediasi meningkat, rasio kredit bermasalah menurun," ujar Hery dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).
Cara BRI Menjaga Kualitas di Tengah Ekspansi
Hery menegaskan perseroan berupaya menyeimbangkan tiga hal sekaligus: pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas. Ekspansi tidak dilakukan dengan mengorbankan prinsip kehati-hatian. Menurutnya, pengelolaan risiko yang memadai justru menjadi syarat agar kinerja bisa berkelanjutan.
"Growth is back, strong. Kualitas pertumbuhan dari sisi risiko tetap kami jaga dan kami optimistis ke depan," tegasnya.
Ke depan, BRI melihat masih ada ruang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Perseroan akan melanjutkan transformasi bisnis dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik, sembari memperkuat peran sebagai penopang ekonomi nasional—terutama di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perseroan.
Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Finance & Strategy Achmad Royadi, Direktur Network & Retail Funding Aquarius Rudianto, serta Direktur Manajemen Risiko Ety Yuniarti turut hadir dalam pemaparan kinerja tersebut.