DHARMASRAYA — Syahrial (54) baru saja menerima kabar dari pengurus KUD Jumat malam. Harga TBS yang sehari sebelumnya masih bertengger di kisaran Rp3.180 per kilogram, pagi ini langsung jatuh ke Rp2.430. Ia tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya.
“Kalaupun turun, itu paling 75 rupiah sampai 100 rupiah per kilo. Kalau sekarang kami petani tentu berfikir panjang,” ujar pria asal Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang itu, saat ditemui di Pulau Punjung.
Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Justru Ambrol
Kekhawatiran serupa disampaikan Asmanto (38), petani dari Nagari Padang Laweh. Ia menilai jika harga sawit tak kunjung pulih dalam waktu lama, dampaknya akan sangat dirasakan.
“Kalau lama-lama kayak gini, hancur kami petani. Pupuk mahal sekarang, pestisida mahal, upah panen mahal, belum lagi biaya perawatan lainnya,” keluhnya.
Asmanto berharap pemerintah daerah Dharmasraya segera turun tangan mencari solusi agar harga TBS kembali membaik. Ia menilai petani saat ini berada di posisi paling terjepit karena harga jual anjlok di tengah biaya produksi yang terus naik.
Pedagang Penampung Juga Ikut Terjepit
Suherman, pemilik timbangan ram sawit di Kecamatan Tiumang, mengaku turut merasakan dampaknya. Ia menyebut harga yang ia patok untuk petani turun Rp700 per kilogram menjadi Rp3.200 pada pagi hari, namun pabrik sudah tak lagi menerima pasokan di sore hari.
“Kami rugi, karena kemarin pagi masih beli sawit petani di harga Rp3.200 per kilo. Ada sekitar 21 ton saya beli dengan harga tinggi, sementara hari ini harga turun. Saat kami mau jual sore hari, pabrik sudah tidak menerima,” ungkapnya.
Ia memperkirakan kerugian yang ia tanggung mencapai belasan juta rupiah akibat selisih harga yang terjadi dalam hitungan jam.
Penurunan Paling Tajam dalam Beberapa Tahun
Baik petani maupun pedagang penampung sama-sama menyebut kejadian ini di luar kebiasaan. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga TBS biasanya berkisar antara Rp75 hingga Rp100 per kilogram. Penurunan hingga Rp750 dalam sehari menjadi rekor baru yang mengagetkan.
Suherman berpesan kepada petani untuk tetap menjaga kualitas TBS sebagai upaya meningkatkan harga jual di masa mendatang. Ia berharap harga sawit bisa kembali stabil agar seluruh rantai pasok, dari petani hingga pedagang, bisa bernapas lega.