BUKITTINGGI — BPJS Kesehatan tidak lagi hanya menyasar peserta lanjut usia dalam program pengelolaan penyakit kronis. Melalui Prolanis Muda, lembaga ini membidik generasi muda yang selama ini rentan mengalami hipertensi dan diabetes melitus tanpa disadari. Peluncuran dilakukan di Bukittinggi, bertepatan dengan ajang lari Jam Gadang Run, sebuah momentum yang dinilai strategis untuk menjangkau komunitas aktif sekaligus menyosialisasikan pentingnya deteksi dini.
Prolanis Muda: Bukan Sekadar Pemeriksaan Rutin
Berbeda dengan Prolanis konvensional yang fokus pada pendampingan pasien kronis usia lanjut, Prolanis Muda dirancang lebih preventif. Peserta tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala, tetapi juga edukasi pola hidup sehat, pengingat konsumsi obat, hingga konseling manajemen stres.
“Banyak peserta usia produktif yang mengalami hipertensi maupun diabetes akibat pola makan tidak sehat, kurang olahraga, hingga tingginya tingkat stres,” kata Humas BPJS Kesehatan, Aditiya Hari Ananda, SH, dalam keterangan resmi yang diterima Metrobatam, Senin lalu.
Mengapa Usia Produktif Menjadi Sasaran?
Data internal BPJS Kesehatan menunjukkan tren peningkatan penyakit tidak menular pada kelompok usia 25–45 tahun dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh perubahan gaya hidup—konsumsi makanan instan, minim aktivitas fisik, dan tekanan pekerjaan. Jika tidak dikendalikan, penyakit-penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius yang justru membebani sistem jaminan kesehatan nasional di masa depan.
Melalui Prolanis Muda, peserta diharapkan mampu mengendalikan faktor risiko sebelum berkembang menjadi penyakit kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Program ini bersifat sukarela dan dapat diakses oleh peserta JKN aktif yang memenuhi kriteria usia.
Kemudahan Lain: Aktifkan Kembali Kepesertaan Lewat Sistem N+1
Bersamaan dengan peluncuran Prolanis Muda, BPJS Kesehatan juga mengingatkan masyarakat tentang mekanisme N+1. Sistem ini memungkinkan peserta yang status kepesertaannya nonaktif karena tunggakan iuran tetap bisa mengakses layanan kesehatan dalam kondisi darurat.
“Pembayaran dilakukan sejak status kepesertaan nonaktif sehingga peserta tetap dapat memperoleh perlindungan layanan kesehatan,” tambah Aditiya. Ketentuan ini berlaku di seluruh fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, termasuk di Sumatera Barat.
Apa Langkah Selanjutnya?
BPJS Kesehatan menargetkan sosialisasi Prolanis Muda secara masif di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Padang dan kota-kota lain di Sumatera Barat. Program ini diharapkan mampu menekan angka komplikasi penyakit kronis di masa mendatang sekaligus mendorong peserta JKN untuk lebih rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, bukan hanya saat sudah sakit.