PADANG — Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, menilai kepedulian aktif dari seluruh lapisan masyarakat merupakan benteng utama mencegah potensi gangguan sosial. Keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat. Dibutuhkan peran serta warga untuk saling menjaga dan mengingatkan.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mengapa kemaksiatan semakin meluas? Karena sering kali orang-orang baik memilih diam dan tidak mengambil peran,” ujar Muhidi di hadapan peserta kegiatan.
Mengapa Warga Sering Memilih Diam?
Politisi asal daerah pemilihan Sumbar itu menyoroti fenomena banyaknya warga yang enggan menegur sesama karena khawatir dianggap melanggar hak asasi manusia. Padahal, teguran yang disampaikan dengan pendekatan santun dan persuasif merupakan bentuk kepedulian, bukan pelanggaran.
“Kalau ada anak-anak kita yang mulai melakukan hal-hal yang tidak baik, panggil dan ajak bicara dengan baik. Tidak perlu dengan kekerasan. Bekerja samalah dalam kebaikan, karena kewaspadaan dini membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat,” katanya.
Filter Informasi Sebelum Menyebar ke Grup WhatsApp
Di tengah derasnya arus informasi digital, Muhidi meminta masyarakat tidak mudah percaya dan langsung menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Hoaks kerap menjadi pemicu keresahan dan perpecahan di tengah masyarakat.
“Kalau ada informasi, jangan langsung dipercaya atau disebarkan. Cek dulu kebenarannya, dari mana sumbernya, apa manfaatnya, baru kemudian ditindaklanjuti. Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoaks yang justru merugikan masyarakat,” tegasnya.
Cakupan Kewaspadaan: dari Keamanan hingga Kebencanaan
Muhidi menjelaskan, kewaspadaan dini tidak hanya terbatas pada aspek keamanan dan ketertiban. Konsep ini juga mencakup bidang sosial, kesehatan, hingga kebencanaan yang kerap melanda wilayah Sumatera Barat.
“Kewaspadaan dini bukan hanya soal keamanan. Ini juga menyangkut bidang sosial, kesehatan, hingga kebencanaan. Jika masyarakat memiliki kepedulian dan mau bekerja sama, maka potensi gangguan bisa dicegah lebih awal sehingga tercipta rasa aman dan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan melahirkan agen-agen perubahan di tingkat nagari dan kelurahan yang tanggap terhadap situasi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, potensi konflik maupun bencana dapat diminimalisir sebelum berdampak luas bagi warga. (**)